Perkenalkan saya si jutek, serba ceplas ceplos, bersumbu sabar pendek dan kadang lupa senyum. Seriously, sadar dan aware banget sama sifat (bawaan lahir?) ini dan berusaha mengontrol emosi. Tapi adakalanya jedaaarrr, kebablasan.
Beruntung partner hidup sekarang cukup sabar bahkan terlalu kalem dan gak terpancing sama sifat saya. Nah ini juga somehow bikin gemes. Tapi Allah maha adil dan maha bijak, 2 sifat berlawanan yang ada ini jadi saling melengkapi. Gak sempurna bak di sinetron tentunya, ada juga goncangan2 dan butuh waktu untuk diresapi dan keluarlah kalimat 'oh iya.. aku ngerti maksud kamu.' Akhirnya balik on track lagi.
I love you beib.
Perjalanan hidup memang misteri dan sesuatu yang gak kebayang sebelumnya tiba2 jadi familiar buat saya. Misalnya, dulu mana kebayang ngebesarin anak lika likunya kayak gini. Dan tiap anak berbeda cara pendekatannya, ga bisa nyamain pengalaman orang deket atau temen karena masing2 punya urusan sendiri. Hei, kita gak pernah tau sebenarnya apa yang mereka rasain. Don't judge my path if you haven't walked my journey and don't judge situation you've never been in. Indeed.
Yah, awal jadi orang tua baru sempet kok terlalu banyak referensi akhirnya suka ga sadar nge-judge cara handle orang tua lain ke anaknya yang gak sesuai dengan ilmu yang saya tau. Thank God, bertemu dengan teman2 yang waras yang selalu mengingatkan kalau hal2 kayak gitu gak perlu dijadiin perhatian. You know who you are mommies out there.. *hugs*
Makanya kalau ada temen cerita tentang keluarganya, tentang istri/suaminya, tentang financial, tentang ini tentang itu, saya berusaha jadi pendengar yang baik dan berhati2 kalau kasih advice.
Tapi
Tapi
Untuk beberapa hal, saya keukeh memegang idealisme. Macam mana? Tolong disingkirkan dulu soal parenting di cerita pertama tadi. Let's talk about general. Ngerti dong ya kalo berbohong itu dilarang agama manapun. Or as simple as you should respect people older than you.
That.
Saya kaku. Kalau gak sesuai pattern-nya langsung jedar jeder. Makanya banyak yang ga suka sama saya. *ehm*
Lalu banyak yang ngomongin ini itu or being judged by others. Sesuatu yang harus saya terima akibat dari sikap saya. Saya terima aja. Apalagi dari mereka yang 'cuma tau' saya doang.
Gak banyak membela diri. Paling cuma dalam hati bilang bahwa apa yang saya lakukan demi meluruskan apa yang gak lurus. Tapi gak diterima alesan ini juga gapapa. Karena toh yang gak suka sama saya bukan prioritas dalam hidup saya. Kecuali mereka orang terdekat. I will really concern.
Biarlah saya focus untuk memperbaiki diri dulu tanpa terpengaruh sama mereka yang gak paham yang saya lakukan.
Because you can't please everyone :)
Dan belum tentu mereka yang sewot sama saya punya attitude yang lebih baik. Aha! It's none of my bussiness.
*salim*